Selasa, 22 Maret 2011

Link source tugas Presentase efektif

Berikut ini adalah contoh Powerpoint yang biasa kita gunakan untuk presentase dengan menggunakan kaedah presentase efektif yang telah dijelaskan oleh P. Wempie Navierra dalam praktek SIM.

klik link di bawah ini:
Manajemen Pemasaran bab 5
file tersebut saya simpan di 4shared.com, jadi untuk mendownload file tersebut akan melalui 4shared.com

sedangkan untuk file yang berada di server Sharebeast.com, klik link di bawah ini!~
Manajemen Pemasaran

Rabu, 16 Maret 2011

COntoh Link!

Fitur Pencarian dasar di google:
1. AND
pasar AND komputer
contoh link jurnal, klik di sini

2. OR: Mencari informasi yang mengandung salah satu dari kedua kata. Bisa menggunakan salah satu dari dua alternatif berikut:

market OR share

contoh link jurnal, klik di sini

3. FRASE: Mencari informasi yang mengandung frase yang dicari dengan menggunakan

tanda “”. Contoh:

“market england”

contoh link jurnal, klik di sini

4. NOT: Hasil pencarian mengandung kata yang di depan, tapi tidak yang dibelakang minus

(-). Contoh di bawah akan mencari informasi yang mengandung kata market tapi bukan

share.

market-share

contoh link jurnal, klik di sini

5. SINONIM (~): Mencari kata beserta sinonim-sinonimnya. Contoh di bawah akan

membawa hasil pencarian: kendaraan (car) dan sinonim-sinonimnya.

~car

contoh link jurnal, klik di sini





Link Jurnal Ethical Marketing for Competitive Advantage on the Internet
Klik di sini untuk mendownload jurnal tersebut!

Senin, 14 Juni 2010

by Sriti.com

Perempuan Beraroma Melati

Cerpen Kurniawan Junaedhie Silakan Simak!
Dimuat di Suara Karya Silakan Kunjungi Situsnya! 06/12/2010 Telah Disimak 31 kali



Saat itu sekitar jam 10 malam lewat. Lampu neon dan pesawat televisi sudah dimatikan. Cahaya hanya muncul samar-samar dari lampu teras yang menerobos masuk kaca riben jendela. Ruangan yang tadi siang berupa kantor merangkap apotek dan poliklinik yang luasnya 5 x 6 meter itu kini praktis sudah berubah fungsi menjadi barak. Orang bergeletakan seperti ikan asin.

Orang tidur dengan posisi amburadul. Yang penting, bisa terlentang dan merebahkan badan. Mereka adalah keluarga pasien luar kota yang terpaksa menginap di barak sialan ini kerena harus menunggui kerabatnya yang sedang menjalani rawat inap. Pasalnya, pihak rumahsakit hanya mengizinkan satu orang saja yang boleh menginap di dalam kamar rawat. Lainnya tidak boleh. Bau keringat basi bercampur bau obat menguar seluruh ruangan.

Saya sedang terlentang menatap langit-langit bersama teman saya Hatta. Ini malam pertama saya tidur di barak itu, sedang bagi Hatta merupakan malam ke-24. Ada rasa sesal, kenapa saya harus ikut mengantar anak saya berobat ke sini. Saya ada di sini semata karena menemani istri mengantar anak saya karena abang-abangnya tidak bisa meninggalkan kuliahnya. "Sungguh. Aku bukan mau menakuti-nakuti. Tapi kamu akan membaui aroma bunga melati," bisik Hatta. "Perempuan itu muncul pada sekitar jam dua pagi ketika suasana sudah senyap tak lama setelah satpam memukul kentongan dua kali. Parasnya cantik. Gaunnya panjang berwarna putih. Dia masuk dari kaca riben itu," katanya sambil menunjuk ke arah jendela.

Kuduk saya meremang. Duk. Kepala saya tertendang kaki orang di atas saya.

"Tapi kamu tidak usah takut. Perempuan itu tidak ngapa-ngapain. Dia hanya akan menampakkan pada orang yang keluarganya bakal meninggal," suara Hatta berbisik di telinga.

"Semacam tanda bagi keluarga yang akan ditinggalkan?" tanya saya bergetar.

"Ya. Begitulah yang saya dengar dari para penghuni yang pulang."

Tengkuk saya meremang lagi. Kalau ada selimut, saya mungkin akan menutupi wajah saya dengan selimut. Tapi jangankan selimut, alas tidur pun saya tidak punya, sementara teman-teman lain menggunakan tikar dan koran untuk alas tidur. Punggung saya sakit.

Duk. Kepala saya tertendang lagi. Sialan. Kali ini oleh kaki orang yang tidur di atas sebelah kiri saya. Di bawah, kaki saya juga berkali-kali tanpa sengaja menendang kepala seorang ibu. Untung ibu itu tidak marah. Dia hanya mengelus kepalanya. Mungkin maklum. Sementara di kiri kanan saya berjubelan orang tidur. Saya lihat ada kepala anak kecil yang nyelip di sela-sela paha seorang lelaki gendut yang sedang asyik mengorok.

Suara dengkur bersahut-sahutan. Seperti sebuah orchestra suara kodok dan suara gergaji. Saya tak tahan. Sungguh seperti barak pengungsi yang saya selalu saya lihat di televisi. Padahal menurut Hatta, jumlah penghuni malam ini sudah berkurang banyak. Tadi siang, tercatat ada tiga penghuni yang pulang.

"Senang ya kalau bisa pulang?" kata saya.

"Ya. Hanya ada dua kemungkinan kita bisa meninggalkan tempat ini: kerabat kita meninggal, atau kerabat kita sembuh," katanya getir.

Saya tertegun.

"Begitulah romantika hidup, setiap hari ada yang datang dan ada yang pergi," kata Hatta pahit.

"Mereka yang pulang itulah yang malam harinya melihat perempuan itu," kata Hatta, lagi-lagi menyebut-nyebut perempuan itu sehingga bulu kuduk saya terus meremang. Sayup-sayup terdengar bunyi lift yang anjlog di gedung sebelah.

Saya menarik napas. Betapa pun saya beruntung bisa tidur di sini. Hatta-lah yang tadi siang menganjurkan agar saya tidur di ruang kantor merangkap apotek dan poliklinik yang kalau malam jadi barak itu. Seperti dikatakannya, ia terpaksa ada di situ karena anaknya yang berumur lima tahun mengalami koma setelah proses pembedahan.

Dia tidak bisa pulang karena setiap hari harus menengok anaknya di ruang ICU. Sama seperti saya, waktu pertama datang ke rumahsakit, istrinya juga ikut. Tapi setelah 10 hari tidak ada perkembangan, istrinya pulang karena masih harus mengurus ketiga anaknya yang sehat di rumah.

"Kalau bukan dokter saja, mungkin sudah saya labrak mereka. Saya selalu tidak berdaya dan lembek di depan mereka. Kita dipaksa menganggap mereka sebagai juru selamat."

Dari tempias sorot lampu teras, saya lihat mata Hatta melihat langit-langit. Sementara itu, saya membayangkan, aroma bunga melati yang menusuk, perempuan berparas cantik, gaun panjang warna putih dan pukul 2 dinihari saat satpam membunyikan kentongan dua kali. Hm. Menyesal juga kenapa harus ikut tidur di barak. Ah, kalau bukan karena sayang anak......

"Mudah-mudahan malam ini salah seorang di antara kita tidak perlu melihat perempuan itu," katanya sambil masih menatap langit-langit yang remang-remang.

"Ya."

Saya menguap. Terdengar dia juga menguap.

"Kamu tidur saja. Saya juga sudah ngantuk."

Rupanya saking lelahnya saya langsung tertidur pulas. Saya baru terbangun ketika mendengar teriakan petugas. "Ayo bangun, bangun, hari sudah siang. Kantor mau dirapikan. Sebentar lagi karyawan datang. Ayo."

Para penghuni barak itu pun rame-rame bangun. Suara geresek kertas koran, sarung, dan tikar yang dikemasi terasa hiruk pikuk. Lalu, setelah itu, seperti ritual saja, semua beramai-ramai memburu kamar mandi dan WC umum yang tersedia di sejumlah blok rumahsakit agar kebagian. Hatta menggandeng tangan saya agar mengikut dia.

"Ayo cepat. Cepat. Kalau tidak cepat tidak dapat," katanya. Saya sempat melihat seorang ibu menarik-narik tangan anaknya yang sibuk menyeret-nyeret tikarnya.

Karena ikut Hatta, saya menemukan kamar mandi yang bebas dari antrean jauh dari situ, yaitu dekat kamar mati.

Sesudah badan segar, dan sarapan bubur ayam di pinggir jalan depan rumahsakit, kami berpisah. Hatta menuju ICU melihat kondisi anaknya, sedang saya sendiri menengok putri saya di kamar inap. Ketika saya lewat, orang-orang yang tadi antre di kamar mandi dekat barak sudah lenyap. Tak ada lagi wajah-wajah yang tadi saya lihat tidur di barak. Mereka rupanya memanfaatkan waktu ke Dufan atau melancong ke Pasar Tanah Abang membeli tekstil. "Dasar Melayu, ke Jakarta untuk menjagai keluarga sakit, malah jalan-jalan," kata pemilik warung dekat halaman parkir tempat saya ngopi. Barak pun sudah lenyap, menjelma menjadi ruang kantor yang bersih, wangi dan ber-AC.

* * *

Malam itu, seperti kemarin, setelah Isya, satu demi satu orang mulai berduyun-duyun menyesaki ruang kantor yang sudah kembali jadi barak.

"Tadi siang tiga penghuni pulang lagi," kata Hatta ketika saya mencoba merebahkan badan di sampingnya.

"Mudah-mudahan tidak ada di antara kita berdua yang nanti malam melihat sosok wanita bergaun putih yang beraroma melati itu."

Hatta melipat koran dan menatap langit-langit. Bulu kuduk saya berdiri. Tak lama kemudian, seperti kemarin, persis pukul 9, AC dimatikan petugas. Sejam kemudian, pesawat televisi giliran dimatikan.

Selanjutnya, lampu neon dimatikan. Ruang seketika menjadi gelap. Semua kegiatan berhenti. Tinggal lampu teras. Suasana yang tadi riuh mendadak senyap. Penghuni mulai merebahkan diri di lantai siap memicingkan mata. Suasana pengap. Seiring dengan itu bau keringat basi bercampur obat pun mulai menguar lagi. Tiba-tiba terdengar ada bunyi SMS. Karena bunyinya sama, hampir semua yang mendengar meraba handphonenya. Tapi belum sempat melihat handphone, seorang bapak bersama anak lelakinya, yang tidur persis di bawah pesawat televisi, sontak berdiri.

Keduanya keluar. Agaknya ada panggilan penting. Benar saja. Tak lama kemudian bapak itu muncul lagi tapi kali hanya untuk mengambil ransel. Matanya lebam. "Istri saya meninggal," katanya lirih mohon pamit.

Terdengar gemuruh orang mengucap Innalillahi.......

"Berarti, sudah lima orang pulang hari ini," kata Hatta.

"Hm, semua orang yang ada di sini memang sedang menunggu giliran, dengan dua kemungkinan," lanjutnya.

Saya memiringkan kepala, menghindari tubrukan dari kepala teman sebelah kiri sekaligus menghindari Hatta yang saya lihat tengah melamun. Sayup-sayup terdengar bunyi lift yang anjlog di gedung sebelah.

"Tadi siang saya juga terima SMS dari istri," terdengar lirih suara Hatta dari kegelapan. "Istri sakit. Anak-anak juga sakit. Uang sekolah belum dibayarkan.

Bank dan rentenir menagih. Saya diminta pulang. Tak tahan dia menghadapi debt collector. Padahal sudah dua mobil dan sebidang tanah kami melayang untuk kesembuhan putri saya." Suaranya parau. "Asal kamu tahu, ini malam ke-25 saya ada di sini. Saya sudah tidak betah. Tak berkesudahan.

Tak tahu sampai kapan."Saya berbalik menoleh. Saya lihat ada air menggenang di matanya.

"Hidup jalan terus. Masih ada tiga anak yang harus saya nafkahi," katanya menerawang dalam gelap.

Saya menguap. Terdengar dia juga menguap. "Kamu tidur saja. Saya juga sudah ngantuk."

* * *

Pagi itu, seperti kemarin, saya baru terbangun oleh teriakan petugas.

"Ayo bangun, bangun, hari sudah siang. Kantor mau dirapikan. Sebentar lagi karyawan datang. Ayo."

Kami pun rame-rame bangun. Suara geresek kertas koran, sarung, dan tikar yang dilipat terasa hiruk pikuk. Lalu, setelah itu, semua beramai-ramai memburu kamar mandi dan WC umum. Kami ikut berlari seperti pengungsi. Tapi di depan kamar mandi dekat kamar mati itu mendadak Hatta berhenti. Dia berbalik dan menatap saya.

"Saya sudah melihat perempuan itu semalam. Dia masuk dari kaca riben itu. Dia muncul ketika suasana sudah senyap tak lama setelah satpam memukul kentongan dua kali. Saya membaui aroma bunga melati yang menusuk," katanya lalu meraung-raung sambil meninju-ninju dinding kamar mandi. ***

* Serpong, 28 Feb. 2010

Sabtu, 30 Agustus 2008

My Name is Gery Gantara


Dalam benakku aku ingin menjadi orang terkenal dimanapun aku berada semua orang pasti mengenalku. Tetapi sesungguhnya kenikmatan untuk menjadi terkenal sebenarnya hanya keinginan internal individu sendiri yang pada basicnya sebagai manusia memang ingin diakui eksistensinya. Tetapui aku sadar karena di dunia ini aku hanya hidup sekali dan pastinya aku ingin menjadi orang berguna bagi semuanya namun juga sebagai manusia yang memiliki berbagai kekurangan aku relaistis untuk menghadapinya. Aku Gery Gantara manusia biasa bukanlah manusia paripurna yang sempurna, aku mempunyai pemikiran sendiri bahwa orang lain adalah orang lain aku adalah aku. Tidak peduli apa yang terjadi dengan orang lain, namun yang terpenting pandangan terhaadp diri kita sendirilah yang sangat menentukan gambaran diri kita. Dalam artian yang lebih maju rasa sukses sebenarnya sangat relatif tergantung dari kita memaknainya...

Senin, 18 Agustus 2008

Pencarian Jati Diri

Perenungan Makna Diri Sendiri
Nama gw Gery Gantara, my hometown di Tulungagung itu lho sebuah kabupaten yang treletak di paling selatan pulau jawa timur penghasil marmer terbesar se- Indonesia. Dalam introduce my blog saya akan membeberkan sedikit rahasia tentang apa rahasianya pencarian jati diri. Seperti kita ketahui bersama bahwa di dunia semua manusia memiliki bakat dan potensi sendiri-sendiri. Tidak ada satupun manusia yang memiliki kemampuan yang nyaris mirip, walaupun orang itu kembar. Semua memiliki keunikan sendiri-sendiri. Nah dari keunikan tersebutlah maka personal bisa melakukan aktifitas atau dengan kata lain bekerja mendapatkan nafkah hidup dari kemampuannya. Apabila orang tersebut benar-benar menemukan bakat yantg tersimpan dalam dirinya, ibaratnya telah membangunkan naga yang selama ini masih tertidur pulas maka dia akan memiliki karier yang melejit dan dipastikan bahwa orang tersebut akan sukses, walaupun kapasitas sukses itu relatif, yang artinya setiap orang berbeda-beda dalam menafsirkan apa itu arti kesuksesan. Tapi setidaknya orang yang telah benar-benar menemukan potensinya akan merasa bahagia lahir-batin karena benar melakukan apa yang sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat yang ia dimiliki.
Dengan kemampuan tersebut selain merasa puas dengan pekerjaan yang ia lakukan, ia juga akan mendapat kontraprestasi besar karena prestasinya yang sangat baik, dikarenakan tentu saja bakatnya memang benar-benar dikondisikan apa yang ia lakukan, yang mungkin tidak sembarang bisa melakukan hal tersebut.
Tapi dalam kenyataannya penemuan zat adiluwih istilahnya dalam diri kita itu sungguh sangat sulit. Ada orang yang pada waktu umur 3 tahun sudah mengetahui bakatnya dalam bidang bermain sepak bola. Maka ketika ia terjun mendalami bidang tersebut ia akan benar-benar dituntun oleh bakat alaminya itu sendiri dan akan sukses menjadi pemain sepak bola yang besar. Ada juga remaja yang pada mulanya sangat takut pada air dan selalu absen pada waktu pelajaran renangnya, suatu ketika dengan bercanda temannya sengaja menceburkan ia ke dalam air, ia pun tergelagap dan akan tenggelam. Tetapi setelah itu ia mulai merasakan ada suatu sensasi kesengan atau rejana yang menggebu-gebu ketika ia akhirnya mulai belajar berenang. Kaki tangannya serta semua tubuhnya benar-benar terkoordinasi rapi dan menghasilkan gerakan renang yang efektif dan cepat. Namun ada juga seumur hidup sampai matipun orang tidak pernah menemukan apa itu yang benar-benar menjadi bakat hidupnya. Artinya dalam semasa hidupnya orang tersebut tidak pernah benar-benar terpuaskan dan hanya mendapat prestasi standar-standar saja. Karena ya, pencarian bakat tidak semudah kita seperti meminta uang saku pada orang tua (karena istilah membalikkan telapak tangan terlalu sering). Di sini diperlukan pengamatan yang benar-benar tepat antara keadaan / situasi, lingkungan, faktor internal (pengenalan kemampuan), emosi, spiritual dan keberuntungan menjadi satu, barulah niscaya kita akan memperoleh sebuah kemampuan yang mana kemampuan tersebut dapat mengubah kita menjadi orang paling sukses yang pernah kita kenal kita.
Berikut tips-tips yang mungkin membantu kita dalam menemukan pencarian jati diri atau bakat:
1). Sering lakukanlah berbagai aktifitas yang berbeda dari waktu ke waktu, dan rasakan pengalaman pertama melakukan hal tersebut apakah kita sudah alami melakukan hal tersebut tanpa belajar ataupun dengan sedikit belajar. Jika kita mudah beradaptasi dengan kegiatan hal tersebut terus asah bakat tersebut, dan mulai rencanakan secara profesional untuk mengembangkan bakat Anda
2). Perbanyak menyerap berbagai pengetahuan, seperti kata pepatah bahwa ilmu pengetahuan adalah kekuatan. Di sini wawasan dapat memberi kita inspirasi dan basis data apa yang akan kita lakukan dalam menghadapi suatu permasalahan. Berhubungan dengan bakat berbagai informasi yang telah masuk dapat kita filter dan secara meditatif tanyakan kepada diri sendiri apakah bakat terpendam saya?
3). Pelajari gaya hidup orang yang telah sukses baik material ataupun rohani. Kemudian pilih salah satu, pelajarinya life stylenya secara detail dan tanyakan mengapa kita suka pada orang ini? Apakah bakat yang ia miliki juga dapat dilakukan oleh saya? Apakah yang ia lakukan sehingga bisa sesukses ini?
4). Meditasi, para ahli menyimpulkan bahwa meditasi adalah proses perendaman berbagai pikiran-pikiran yang berkecamuk. Ibaratnya adalah ada sebuah gelas yang berisi air keruh kita tidak tahu bagaimana pada dasarnya air itu dan apa yang mebuatair itu kerah tetapi dengan mendiamkannya beberapa menit maka air yang berada di dalam gelas tersebut akan jernih dikarenakan kotoran-kotoran telah mengendapa di bawah. Demikian pula halnya meditasi dapat mengendapkan pikiran-pikiran kita yang kacau sehingga mempengaruhi interprestasinya. Teknik melakukan meditasi yang baik dapat Anda pelari melalui lembaga beladiri tenaga dalam, lembaga Yoga atau sebagainya. Dengan meditasi inspirasi cerdas pun dapat mudah masuk melalui pikiran kita.

NB: Pengetahuan di atas bukan merupakan hasil copy paste dari media, tetapi memang benar-benar murni buah pikiran, pengalaman dan wawasan dari penulis sendiri